Puing-Puing Pesawat Lion Air JT 610 Mulai Ditemukan Setelah 1 Tahun

Pesawat Lion Air PK LKP nomor JT 610 yang Jatuh 2018 Semakin Terungkap

Daya ingat bakal tragedi jatuhnya pesawat Lion Air PK LKP nomor JT 610 di perairan Karawang, 26 Oktober 2018, semestinya masih tetap menempel. Pesawat Boeing yang diterbangkan Pilot Bhavye Suneja serta kopilotnya, Harvino, jatuh pada ketinggian 3. 000 kaki.

Dari Lapangan terbang Soekarno-Hatta, pesawat itu harusnya berangkat ke Lapangan terbang Depati Amir, Pangkalpinang. Nahas, waktu 06. 32 WIB, pesawat dikatakan hilang kontak serta jatuh, tewaskan 189 penumpang serta awak.

1 tahun berlalu, yang menimbulkan jatuhnya pesawat belumlah juga dapat diyakinkan. Kala itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih menyelidik CVR Black Box yang diketemukan Basarnas di basic laut.

Saat ini, yang menimbulkan pastinya kecelakaan perlahan-lahan tersingkap. Kepala Sub Komite Penyidikan Keselamatan Penerbangan KNKT, Kapten Nurcahyo Utomo, mengemukakan, ada kehancuran pada sisi Manuvering Characteristics Augmentation Sistim (MCAS) pesawat.

Kurangnya kabar yang selayaknya diungkapkan Boeing ini bikin pilot kesukaran menanggulangi kehancuran MCAS dalam pesawat. Ini sebabkan awak kuatir serta salah melangkah.

Jokowi-Ma’ruf Telah Dikukuhkan, Mobil Barunya Siap Akhir Tahun

“Pertama, kala bentuk serta sertifikasi dibikin pelbagai analisis berkaitan reaksi pilot pada kehancuran MCAS, analisis ini udah dibikin berdasar pada keputusan berlaku, tetapi ada sejumlah perihal yang tidak pas jadi logisnya pilot bakal bereaksi dengan berikan trim yang cukup, namun nyata-nyatanya itu tak berlangsung, ” kata Nurcahyo kala pertemuan wartawan di Kantor KNKT, Gambir, Jakarta, Jumat (25/10) .

Menurut dia, Faksi Boeing cuma memercayakan satu metode sensor MCAS pada pesawat. Apabila sensor rusak, tak ada metode lain yang mem-back up. ” Sampai menyusahkan disaat MCAS aktif mereka tak dapat mengetahui metode ini apa, lantaran tak mengetahui MCAS ini apa, ” makin ia.

Atas human error ini, KNKT berikan tiga rujukan terhadap Lion Air serta enam rujukan buat Boeing. Walaupun gak menyebutkannya dengan cara detail ke publik, akan tetapi, Nurcahyo mengatakan, rujukan buat Lion Air berhubungan dengan pengurusan manajemen masalah. Sesaat buat faksi Boeing berkaitan asesmen atau penelusuran bentuk baru.

“(Sesaat buat) Dirjen Perhubungan Udara berkaitan pengawasan kalau proses yang dipunyai operator pesawat udara, serta bengkel perawatan pesawat butuh ditambah pengawasannya supaya dapat terimplementasi secara baik, ” paparnya.

Menyikapi ini, Corporate Communications Strategic of Lion Air Kelompok, Danang Mandala Prihantoro, mengemukakan, hasil KNKT itu bakal dicermati biar moment mirip gak terulang kembali.

“Penting untuk kami buat tentukan akar dari yang menimbulkan serta aspek partisan dari kecelakaan itu buat lekas melaksanakan perbaikan, buat meyakinkan kecelakaan tak berlangsung , ” kata Danang.

Hasil laporan ini pun memperoleh animo dari Boeing. Presiden serta CEO Boeing, Dennis Muilenburg, menjunjung fakta-fakta yang diketemukan instansi itu.

Dennis meyakinkan Boeing bakal menuruti rujukan keselamatan KNKT buat menambah keselamatan pesawat 737 MAX.

“Banyak engineer kami tengah kerja berbarengan Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat serta banyak regulator yang lain dari pelosok dunia buat meningkatkan inovasi fitur lunak serta pergantian yang lain, dengan pertimbangkan kabar hasil dari penyidikan KNKT, ” katanya.

Densus 88 Mabes Polri Bekuk Tersangka Teroris di Kota Malang

Berikut 9 aspek komplet yang berperan dalam jatuhnya lion air :

1. Asumsi berkaitan reaksi pilot yang dibikin ketika proses bentuk serta sertifikasi pesawat Boeing 737-8 (MAX) , walaupun sama dengan rekomendasi yang ada nyata-nyatanya tak pas.
2. Mengacu analisis yang udah dibikin atas reaksi pilot serta kurang selengkapnya tinjauan berkaitan beberapa dampak yang bisa berlangsung di cockpit, sensor tunggal yang dipercaya buat MCAS dikira cukup serta penuhi keputusan sertifikasi.
3. Desain MCAS yang memercayakan satu sensor riskan pada kekeliruan.
4. Pilot alami kesukaran melaksanakan tanggapan yang pas pada gerakan MCAS yang tak selayaknya lantaran tak ada arahan dalam buku pedoman serta kursus.
5. Indikator AOA DISAGREE tak ada di pesawat Boeing 737-8 (MAX) PK-LQP, menyebabkan kabar ini tidak ada ketika penerbangan dengan penetapan pojok AOA yang tidak sama di antara kiri serta kanan, sampai ketaksamaan ini tidak bisa dibuat oleh pilot serta teknisi tidak bisa mengidentifikasi kehancuran AOA sensor.
6. AOA sensor substitusi alami kekeliruan kalibrasi yang tak terdeteksi ketika perbaikan awal mulanya.
7. Investigasi tidak bisa tentukan pengujian AOA sensor seusai terpasang pada pesawat yang alami kecelakaan dilaksanakan secara benar, sampai kekeliruan kalibrasi tak terdeteksi.
8. Informasi perihal stick shaker serta pemanfaatan proses non-normal Runaway Stabilizer pada penerbangan awal mulanya tak tersebut pada buku catatan penerbangan serta perawatan pesawat menimbulkan baik pilot ataupun teknisi tidak bisa ambil perbuatan yang pas.
9. Beberapa peringatan, berulangnya aktivasi MCAS serta padatnya komunikasi dengan ATC tak terkelola dengan efisien. Perihal ini dipicu oleh situasi-kondisi yang sukar serta kapabilitas mengontrol pesawat, implementasi proses non-normal, serta komunikasi antar pilot, beresiko pada ketidakefektifan penyelarasan antar pilot serta pengurusan beban kerja. Situasi ini udah teridentifikasi ketika kursus serta tampak kembali lagi penerbangan ini.

1 comment on “Puing-Puing Pesawat Lion Air JT 610 Mulai Ditemukan Setelah 1 Tahun

  1. Pingback: irmandade.tv Portal Berita Terbaru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *